Kemenkeu pede ekonomi Indonesia di atas mayoritas negara ASEAN lain, ini alasannya

 







 KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan dengan mayoritas negara ASEAN pada 2020. Keyakinan itu didasari atas perbaikan ekonomi yang perlahan membaik sejak kuartal II-2020 mengalami pukulan berat.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan pihaknya memprediksi ekonomi Indonesia tahun lalu akan tumbuh di kisaran minus 1,7% year on year (yoy) hingga minus 2,2% yoy. 

Febrio menyampaikan prediksi tersebut Ini lebih baik dibandingkan mayoritas negara ASEAN seperti Malaysia minus 6% yoy, Filipina minus 8,3% yoy, Thailand minus 7,1% yoy, dan Singapura minus 6% yoy. 

Baca Juga: Defisit APBN 2020 capai 6,09% PDB, Kepala BKF: Cukup menggembirakan saat ekonomi lesu

Sementara itu, dibanding negara-negara G20 seperti Perancis minus 9,8% yoy, Jerman minus 6% yoy, serta India minus 10,3% yoy. Hanya saja, ekonomi Indonesia lebih buruk dibanding proyeksi ekonomi China yang yang tumbuh positif 1,9% yoy. 

Menurut Febrio kondisi ekonomi di akhir tahun terus menunjukkan tren pemulihan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur, sebagai salah satu indikator aktivitas perekonomian yang sebelumnya tercatat kontraktif, mulai menunjukkan angka ekspansif di akhir tahun yaitu sebesar 51,3. 

Dari sisi, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penguatan dan semakin stabil seiring membaiknya aliran modal di akhir tahun. 

Di sisi lain, Febrio menyampaikan pada dasarnya pandemi virus corona sepanjang tahun 2020, telah menyebabkan tekanan yang dalam pada perekonomian di seluruh negara. 

Baca Juga: Kredit seret, setoran pajak jasa keuangan dan asuransi anjlok di tahun lalu

Ketidakpastian yang tinggi menyebabkan lembaga internasional seperti IMF, OECD dan World Bank terus melakukan pembaruan atas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Pada asesmen terakhir, ketiganya memprediksi terjadi kontraksi pertumbuhan ekonomi global pada kisaran minus 4% yoy. 

Kata Febrio, selama pandemi ekonomi Indonesia akan tergantung dari penangan pandemi Covid-19. Di dalam negeri, kasus harian COVID-19 masih tetap berlanjut dengan penambahan kasus yang masih eskalatif terutama dalam 1,5 bulan terakhir. 

Alhasil, upaya penanganan pandemi Covid-19 menyebabkan terganggunya mobilitas yang berujung pada penurunan aktivitas ekonomi. Di kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia langsung terdampak dengan realisasi minus 2,97% yoy setelah di beberapa tahun sebelumnya selalu berada di kisaran angka 5% yoy. 

Baca Juga: Inilah stimulus UMKM dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021

Selanjutnya di kuartal II-2020, Indonesia menetapkan kebijakan PSBB ketat untuk meminimalisasi penyebaran kasus Covid-19 yang menyebabkan ekonomi nasional terkontraksi sebesar minus 5,32% yoy. 

Kemudian pada kuartal III-2020, seiring dengan pelonggaran PSBB, perekonomian Indonesia mulai menunjukkan titik pembalikan meskipun masih terkontraksi minus 3,49%. 

“Namun eskalasi Covid-19 sampai dengan akhir tahun yang relatif tinggi masih memberikan tekanan pada kinerja pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu, Selasa (12/1).


https://newssetup.kontan.co.id/news/kemenkeu-pede-ekonomi-indonesia-di-atas-mayoritas-negara-asean-lain-ini-alasannya?page=all

Share:

Vaksinasi Covid-19 Berjalan Sesuai Rencana, Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5 Persen di 2021

  

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5 persen pada 2021. Ekonom sekaligus Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai target pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlalu muluk-muluk. Asalkan, proses vaksinasi sesuai dengan skenario. 

"Seperti diketahui, vaksinasi kepada setidaknya 70 persen penduduk atau sekitar 180 juta jiwa akan membutuhkan waktu yang cukup lama," kata dia saat dihubungi Merdeka.com, Selasa (12/1/2021).

Sehingga, imbuh Piter, penanggulangan pandemi diyakini masih sangat ditentukan oleh kecepatan pelaksanaan vaksinasi. Pun, kedisiplinan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan juga dinilai penting untuk mewujudkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini.

"Kalau masyarakat tetap tidak disiplin. vaksinasi bisa menjadi tidak efektif. Penanggulangan pandemi masih membutuhkan waktu yang lama," terangnya.

Selain itu, pemerintah juga diminta perlu untuk segera meningkatkan pengawasan implementasi protokol kesehatan terhadap seluruh aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat maupun dunia usaha. Sebab, saat ini tingkat penularan virus mematikan asal China itu kian mengancam aspek kesehatan masyarakat setelah lemahnya fungsi pengawasan.

"Bila itu (pengawasan) tidak terjadi, pertumbuhan ekonomi tetap akan rendah. Target 5 persen sulit Dicapai," ujar dia mengakhiri.

 

Target Menko Airlangga

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan vaksinasi yang akan dilakukan kepada masyarakat merupakan langkah pendorong dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5 persen untuk tahun ini.

"Kita melihat pada Januari ini atau sepanjang tahun 2021 APBN kita didesain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen," katanya.

Airlangga menjelaskan tiga juta vaksin telah dikirimkan ke berbagai daerah dan diharapkan pertengahan Januari 2021 vaksinasi dapat dilakukan secara bertahap sampai kuartal pertama 2022.

Pelaksanaan vaksinasi yang saat ini masih menunggu BPOM mengeluarkan Emergency Use Authorization maupun MUI mengeluarkan sertifikat kehalalan ini akan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam beraktivitas.

Aktivitas yang meningkat tersebut turut mendorong kegiatan konsumsi dan daya beli masyarakat menjadi lebih bergerak sehingga target pertumbuhan 4,5 persen sampai 5 persen untuk tahun ini akan mampu tercapai.

"Masyarakat cukup percaya diri untuk melakukan konsumsi. Saat ini confident level itu sudah meningkat. Konsumsi masyarakat sudah bergerak," katanya


Share:

DANA Dukung Ekonomi Indonesia Melalui Transformasi Keuangan Digital

 







 Jakarta, Selular.ID –Transaksi elektronik dengan menggunakan aplikasi dompet digital atau e-wallet semakin meningkat. Selain dianggap praktis, aman, cepat, dan menawarkan banyak keuntungan, transaksi seperti ini pun juga dianggap lebih aman, di saat Pandemi seperti sekarang ini. Karena sesuai dengan protokol kesehatan yang tidak berinteraksi langsung.

Begitupun DANA, Selama masa pandemi, transaksi digital DANA tercatat meningkatkan hingga 98%.  Vince Iswara, CEO dan Co-Founder DANA menuturkan, transaksi digital di masa pandemi tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi sebuah keharusan. Oleh karena itu, masa pandemi mendorong masyarakat untuk mengeksplor berbagai fitur yang ada dalam layanan dompet digital, tak terkecuali DANA.

DANA pun siap mendukung tumbuh kembali ekonomi di Indonesia, melalui transformasi keuangan digital. Selanjutnya bagaimana strategi DANA untuk tetap bersaing di Indonesia, dan inovasi apa saja yang akan dikembangkan DANA, berikut petikan wawancara Selular.ID dengan Vince Iswara.

Bagaimana perkembangan bisnis DANA di Indonesia? (dari pertama hadir, sampai saat ini)
Perkembangan bisnis DANA sejak pertama hadir di Indonesia hingga saat ini menunjukkan perkembangan yang positif. Selain makin dikenal oleh masyarakat luas, perkembangan bisnis DANA juga ditunjukkan dengan jumlah pengguna yang kian bertambah setiap tahunnya.

Hingga tahun 2020, DANA mencatat ada 45 juta pengguna yang tersebar di seluruh Indonesia, 200.000 mitra bisnis telah bergabung bersama DANA, hingga lebih dari 1.900 mitra online terdaftar.

Di setiap tahunnya, DANA juga terus menghadirkan inovasi produk dan teknologi terbaru untuk menambah keamanan dan kenyamanan pengguna kami dalam bertransaksi digital. Oleh karena itu, dalam perkembangan bisnis DANA, kami tidak bergerak sendiri, tetapi turut melibatkan pelbagai ekosistem ekonomi agar dampak yang dirasakan makin besar dan terasa hingga ke pengguna.

Dalam kurun waktu dua tahun, DANA sukses memperluas kolaborasi kami dengan pemerintah lewat dukungan dan sinergi program yang erat kaitannya dengan transformasi digital bagi UMKM, DANA juga menambah mitra nasional dan global (Apple, Spotify, TikTok) untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna, hingga bergerak bersama komunitas untuk memperkuat terciptanya masyarakat go digital di berbagai kalangan.

Sebagai layanan dompet digital, apa yang membedakan DANA dengan layanan dompet digital lainnya?
Salah satu yang menjadi keunggulan DANA sebagai dompet digital adalah teknologi yang dimiliki. DANA selalu mengedepankan teknologi yang andal untuk mendukung berjalannya layanan finansial bagi masyarakat. Dengan teknologi yang mumpuni, DANA berharap dapat menjadi dompet digital kepercayaan pengguna dan mendukung setiap kegiatan transaksi digital dengan aman, mudah, praktis, dan nyaman. Salah satu bentuk komitmen DANA terhadap teknologi ini juga diwujudkan dengan pemberian DANA jaminan proteksi 100% kepada para pengguna dompet digital DANA sesuai Syarat & Ketentuan berlaku.

Apakah penyerapan DANA sudah tersebar di seluruh Indonesia?
Pengguna DANA saat ini didominasi oleh kota-kota besar di Indonesia. Meski demikian, DANA terus mengembangkan potensi pengguna DANA di penjuru kota lainnya dengan menggandeng pemerintah daerah dan komunitas setempat. Lewat dukungan pemerintah daerah dan komunitas setempat serta penyelenggaraan pendampingan yang berkala, DANA optimis dapat melakukan pemerataan pengguna di seluruh tanah air.

Salah satu upaya yang DANA lakukan adalah dengan mendukung program Bangga Buatan Indonesia bersama Kemenko Marves dan Kemenkop UKM, di mana DANA ikut mendorong UMKM di berbagai daerah untuk go digital. Program ini menjadi cara yang tepat untuk DANA mendorong pelaku UMKM di berbagai daerah dalam memanfaatkan transaksi digital. Sebagai sahabat UMKM, DANA aktif mengoptimalkan platform, melakukan pendampingan, dan memanfaatkan promosi untuk menstimuli penggunaan transaksi digital termasuk QRIS. Harapannya DANA makin familiar untuk digunakan dalam kehidupan bertransaksi masyarakat sehari-hari.

Seperti apa ekosistem pembayaran digital di Indonesia?
Ekosistem pembayaran digital di Indonesia saat ini makin berkembang. Hal ini diindikasikan dengan bermunculannya layanan pembayaran digital yang kian beragam, serta dukungan ekosistem ekonomi lain seperti pemerintah, institusi finansial, hingga e-niaga yang makin menggencarkan pembayaran digital itu sendiri.

Sinergi dari seluruh mata rantai ekonomi ini menjadi penting dan berpengaruh banyak bagi percepatan transformasi transaksi digital di masyarakat. Sinergi yang berkesinambungan antar seluruh pihak ini diharapkan kelak dapat menumbuhkan budaya transaksi digital, bahkan berpotensi untuk menguatkan perekonomian nasional.

Berkembangnya ekosistem pembayaran digital yang lebih kokoh juga dapat bermanfaat banyak bagi pelaku usaha, khususnya UMKM. Selain pelaku UMKM akan lebih adaptif dengan dinamika yang terjadi, pelaku usaha juga mampu menjawab kebutuhan pelanggan, dan bisa berinovasi serta tetap punya daya saing di era digital ini. DANA sendiri memiliki perhatian yang tinggi untuk sektor ini. Bagi UMKM, DANA adalah sahabat yang bisa mereka andalkan untuk go digital dengan mudah.

Saat ini berapa pengguna DANA?
Pengguna DANA hingga tahun 2020 mencapai lebih dari 45 juta pengguna. Kami sangat berterima kasih kepada seluruh pengguna atas kepercayaannya menggunakan DANA.

Paling banyak pengguna DANA direntang usia berapa?
DANA saat ini paling banyak diminati oleh pengguna di usia awal 20 hingga 35 tahun, baik perempuan dan laki-laki.

Dan di kota mana pengguna DANA yang lebih dominan?
Mengacu pada jawaban nomor tiga, pengguna DANA masih didominasi oleh pengguna di kota-kota besar di Indonesia, terutama pada kota-kota Jabodetabek. Porsi terbesar pengguna DANA masih ditempati oleh masyarakat kota Jakarta. Meski demikian, pendekatan dan edukasi terus kami lakukan untuk mencapai masyarakat digital yang lebih merata.

Bagaimana mengedukasi masyarakat agar beralih ke layanan dompet digital?
Kami percaya bahwa kunci utama yang dibutuhkan dari setiap edukasi adalah kanal, kolaborasi, dan kesinambungan.

Artinya, DANA tidak berhenti memanfaatkan satu kanal saja di satu waktu, tetapi mensinergikan berbagai kanal serta menggandeng ekosistem lainnya dalam jangka waktu yang berkala. Untuk pelaku UMKM, misalnya, DANA melakukan pendampingan berkala yang dapat memajukan usaha mereka dan memudahkan pemahaman pelaku usaha akan transaksi digital. Edukasi untuk pengguna biasa lainnya juga dilakukan lewat asupan konten yang bermanfaat di kanal milik DANA ataupun menyebarluaskan informasi mengenai DANA melalui media.

Selagi mengedukasi masyarakat dengan tiga kunci tersebut, DANA juga tak lupa memastikan dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat dengan teknologi dan produk yang ditawarkan. Maka dari itu, pengembangan teknologi dan kapabilitas senantiasa akan terus menjadi fokus DANA.

Apa nilai lebih yang ditawarkan supaya orang mau memakai DANA?
Sesuai dengan pilar DANA, DANA menawarkan berbagai manfaat dan kemudahan bagi pengguna, terutama yang erat kaitannya dengan transaksi digital. Lewat ketiga pilarnya, DANA menawarkan tiga hal berikut:

– Trusted
DANA menerapkan teknologi untuk menjamin keamanan, kenyaman, dan kelancaran bertransaksi para pengguna, di antaranya dengan menerapkan risk engine/fraud detection engine berbasis Artificial Intelligence dalam menganalisa setiap transaksi yang dilakukan pengguna kami. DANA juga mengembangkan DANA Protection untuk memberikan proteksi 100% kepada para penggunanya sesuai Syarat & Ketentuan yang berlaku.

– Friendly
DANA mudah dan nyaman digunakan dan dilengkapi berbagai fitur yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

– Accessible
DANA dapat digunakan oleh siapa pun, baik pengguna hingga bisnis dengan berbagai skala, mulai dari UMKM, mitra nasional hingga global, dan e-commerce.

Sejauh ini teknologi apa saja yang sudah dikembangkan DANA, untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya?
Untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna, DANA menciptakan User Experience (UX) atau pengalaman bertransaksi digital yang mudah, nyaman, aman, dan mengesankan. Teknologi dan produk yang dikembangkan selalu dibuat adaptif sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu.

Misalnya di masa pandemi ini, DANA telah mengembangkan fitur-fitur baru yang memperkaya pengalaman para pengguna dalam bertransaksi nontunai melalui rumah. Beberapa fitur tersebut diantaranya adalah layanan ‘Pesan dari Rumah’ atau DANA Home Shopping, DANA Delivery yaitu jasa antar untuk memudahkan berjalannya bisnis pelaku UMKM di masa pandemi, dan banyak lagi.

Lewat fitur-fitur yang memudahkan, pengguna secara tidak langsung akan merasakan kenyamanan dan membuat pengguna kami terus mempercayakan DANA sebagai dompet digital pilihannya.

Untuk keamanan, teknologi apa saja yang diandalkan DANA?
DANA sangat mengutamakan keamanan sistem dan perlindungan data para penggunanya. Bagi kami, keamanan adalah dasar kepercayaan pengguna dompet digital DANA. DANA saat ini memastikan keamanan dengan berbagai cara, seperti memiliki Data Center dan Data Recovery Center di Indonesia, memiliki Sertifikasi PCIDSS (Payment Card Industry Data Security Standard), menerapkan zero data sharing policy, melakukan kerja sama dengan Dukcapil untuk verifikasi data.

Selain upaya tersebut, DANA juga mengembangkan beberapa fitur seperti DANA Face Login. Dengan fitur ini, pengguna tak perlu khawatir untuk gagal melakukan login akibat lupa PIN. Atau yang paling kritikal, bisa menghindarkan dari kemungkinan pengambilalihan akun DANA akibat informasi tentang PIN pengguna diketahui oleh pihak lain yang tidak bertanggungjawab.

Layanan apa atau fitur apa yang banyak diandalkan pengguna DANA?
Ada lima fitur yang paling banyak dimanfaatkan pengguna DANA saat ini, diantaranya transaksi melalui QRIS, transaksi dengan online merchant, P2P (atau ‘Kirim Uang’), Biller (atau ‘Pembayaran Tagihan’) termasuk listrik, air, BPJS, dan lainnya, dan yang terakhir fitu DANA Bisnis.

Terkait pandemi tentunya ada peningkatan transaksi, mengingat masyarakat lebih mengandalkan pembayaran online, berapa peningkatannya?
Selama masa pandemi, transaksi digital tercatat meningkatkan hingga 98%. Kami menangkap transaksi digital di masa pandemi tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi sebuah keharusan. Oleh karena itu, masa pandemi mendorong masyarakat untuk mengeksplor berbagai fitur DANA.

Fitur yang cukup meningkat signifikan selama masa pandemi diantaranya adalah fitur Bayar Tagihan dan Kirim Uang. Pembayaran tagihan ini mencakup kebutuhan sehari-hari seperti listrik, gas, tagihan telepon, pembelian pulsa. Sementara pengiriman uang yang dimaksud adalah transfer ke sesama pengguna DANA melalui akun virtual, ke rekening bank, serta dapat digunakan untuk mengirimkan uang lewat aplikasi pesan WhatsApp serta LINE. Selain kedua fitur tersebut, penggunaan DANA untuk pembelanjaan lewat e-niaga juga menyumbang kontribusi yang cukup besar, apalagi mengingat DANA kini tersedia di tiga e-niaga favorit pengguna.

Baca Juga:Pengguna Dana Kini Dapat Berinvestasi Emas melaui eMas

Bagaimana strategi DANA bersaing dengan layanan dompet digital lainnya?
Bagi DANA, layanan dompet digital lain merupakan sesama penggerak bagi terwujudnya layanan finansial digital yang inklusif. Kehadiran layanan dompet digital lain kami nilai positif untuk mendorong masyarakat dalam memanfaatkan transaksi digital salah. Meski demikian, kami tetap menggencarkan strategi kami agar dapat memberikan layanan transaksi digital terbaik. Strateginya melalui pengembangan teknologi dan kapabilitas dompet digital DANA. Tujuannya agar pengalaman pengguna yang kami hadirkan makin kaya dan meyakinkan mereka bahwa DANA adalah pilihan terbaik dan tepercaya sebagai dompet digital.

Tak lupa, kami juga senantiasa mendengar masukan pengguna DANA agar dapat menjadi acuan kami dalam mengembangkan produk yang tepat guna.

Harapan DANA kedepannya seperti apa?
DANA sebagai penyedia infrastruktur pembayaran nontunai siap mendukung tumbuhnya kembali ekonomi di Indonesia melalui transformasi keuangan digital. DANA akan terus memunculkan inovasi teknologi dan produk terbaru yang akan mengakomodir kebutuhan pengguna dan lebih lagi mengakselereasi kemampuan mereka dalam bertransaksi digital. Seluruh upaya ini selaras dengan visi kami sejak awal berdiri yaitu menjadi jembatan bagi seluruh ekosistem ekonomi dan menciptakan terwujudnya Indonesia cashless society.


https://selular.id/2021/01/dana-dukung-ekonomi-indonesia-melalui-transformasi-keuangan-digital/

Share:

Meski Membaik, Pengamat Sebut Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2021 Masih Hadapi Sejumlah Tantangan

DKI Jakarta/ /unsplash.com/Eko Herwantoro

PIKIRAN RAKYAT - Covid-19 atau virus corona hingga saat ini masih melanda sebagian wilayah dunia termasuk Indonesia.

Covid-19 merupakan salah satu virus yang dapat menular lewat udara.

Sejak pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Tiongkok pada akhir Desember 2019 silam, jumlah kasus positif Covid-19 di dunia terus mengalami peningkatan, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Hingga Desember 2020, Penerimaan Pajak Capai Rp1.019 Triliun

Hingga saat ini sejumlah ilmuwan dunia masih berjibaku untuk menemukan vaksin virus tersebut.

Covid-19 telah memberikan dampak negarif terhadap sejumlah sektor kehidupan manusia seperti kesehatan, ekonomi, dan pendidikan.

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 tidak akan berjalan mulus, walaupun akan membaik dengan pertumbuhan positif.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Kroasia, 7 Orang Dilaporkan Tewas, Puluhan Luka-luka Tertimpa Bangunan

"Kita memproyeksi tahun 2021 pertumbuhan 3 persen karena masih ada tekanan dari Covid-19 terlebih adanya varian virus baru dari Inggris," kata Tauhid seperti dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com dari Anadolu Agency.

Dirinya mengatakan ekonomi Indonesia sebenarnya mulai membaik di kuartal keempat 2020, namun perbaikan tersebut tertahan akibat adanya pembatasan yang kembali dilakukan untuk menghambat penyebaran virus di akhir tahun.

Tauhid menjelaskan pada kuartal keempat pertumbuhan akan sulit masuk ke zona positif dan masih tertahan di minus 2 persen akibat dampak dari pembatasan aktivtias ekonomi dan kontrolketat perjalanan luar kota dan internasional.

Baca Juga: West Brom vs Leeds Berakhir Memalukan untuk Tuan Rumah, Taji Sam Allardyce Belum Tampak

"Saya setuju langkah pemerintah membatasi kegiatan agar penyebaran virus tidak terlalu luas," ucap Tauhid.

Tauhid menjabarkan proyeksi INDEF terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 yang sebesar 3 persen karena beberapa pertimbangan.

Pertama, program vaksinasi diperkirakan tidak berjalan mulus karena prosesnya yang tidak mudah khususnya pada tahap distribusi karena luasnya geografis Indonesia serta target masyarakat yang mendapatkan vaksin yakni 70 persen populasi atau sekitar 180 juta orang.

"Vaksin juga masih diuji klinis serta proses pengadaannya tidak mudah dengan jumlah yang besar," kata dia.

Tauhid mengatakan Covid-19 sebagai faktor penghambat pertumbuhan ekonomi belum tentu selesai tahun depan.

Hal ini lantaran sangat tergantung pada keberhasilan vaksinasi yang menurut pemerintah juga tidak akan mudah.

Disparitas kualitas fasilitas kesehatan antardaerah menurut Tauhid juga bisa menjadi faktor penghambat keberhasilan vaksinasi.

Selain itu, Tauhid menilai pemulihan ekonomi di sektor usaha khususnya tetap membutuhkan waktu dan proses yang lebih panjang, tidak bisa langsung pulih dalam 3 hingga 6 bulan saja.

"Kami melihat tahun depan pertumbuhan masih tertahan, daya beli belum pulih khususnya pada kelompok menengah ke bawah karena marak terjadi PHK," tuturnya.

https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-011187275/meski-membaik-pengamat-sebut-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-di-2021-masih-hadapi-sejumlah-tantangan?page=3 

Share:

Pulihkan Ekonomi, Uni Eropa Ingin Perundingan CEPA Dengan Indonesia Beres 2021

 

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket saat melepas penerima beasiswa Erasmus Plus pada 18 Juli 2020/Uni Eropa

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket saat melepas penerima beasiswa Erasmus Plus pada 18 Juli 2020/Uni Eropa

TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki 2021, Uni Eropa menetapkan penyelesaian perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) sebagai salah satu prioritas mereka. Hal tersebut menyusul perundingan yang tak kunjung usai hingga sekarang.

Per berita ini ditulis, perundingan I-EU Cepa akan mencapai putaran ke-10. Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki target spesifik soal kapan perundingan harus usai, namun ia mengharapkan hal tersebut bisa dituntaskan.

"Kami tidak ingin memberikan tekenan yang dibuat-buat. Gunakan waktu yang ada sebaik mungkin dan pastikan mendapat hasil terbaik," ujar Vincent Piket dalam konferensi pers virtual, Rabu, 13 Januari 2021.

Diberitakan sebelumnya, I-EU CEPA adalah skema kerjasama komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama dagang di antara keduanya. Hal itu mulai dari membuka akses pasar, mendorong investasi dari perusahaan-perusahaan negara anggota Uni Eropa, hingga meningkatkan perdagangan dari Indonesia ke Eropa.

Perundingan I-EU CEPA sempat terganggu oleh pandemi COVID-19. Namun, seiring dengan terpukulnya perekonomian kedua kubu akibat pandemi, kedua pihak sepakat berupaya melanjutkan perundingan yang ada. Vincent Piket berkata, I-EU CEPA bisa menjadi alat untuk pemulihan ekonomi ataupun pertumbuhan pada tahun-tahun ke depan.

"Jika terwujud, I-EU CEPA bisa memberikan pertumbuhan ekstra (untuk nilai perdagangan) dengan nilai hingga 5 Miliar Euro per tahun begitu memberikan dampak," ujar Vincent Piket. Nilai tersebut setara dengan Rp85 triliun.

"Ini bisa membantu Indonesia mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan mencapai target negara berpenghasilan tinggi per 2045," ujar Vincent Piket menambahkan.

Berbicara soal perdagangan, Vincent Piket menambahkan bahwa kerjasama dagang antara Indonesia dan Uni Eropa tetap baik. Namun, terjadi penurunan nilai ekspor year on year sebesar 11 persen dari US$12,03 miliar (Januari-Oktober 2019) menjadi US$10,67 miliar (Januari-Oktober 2020).

Penurunan tersebut disebabkan tak lain karena COVID-19. Namun, kata Vincent Piket, tetap ada pertumbuhan di beberapa jenis perdagangan. Salah satunya, di perdagangan sawit (CPO) yang nilainya naik 27 persen dan volumenya naik 10 persen

"Kami tahu CPO begitu penting bagi Indonesia...Kenaikan nilai dan volume justru menandakan tidak ada upaya dari kami untuk melarang perdagangan CPO," ujar Piket menegaskan. Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Uni Eropa tengah bersengketa di WTO soal perdagangan minyak sawit. 


Share:

Eksportir Pangan Dunia Mulai Lakukan Impor, Indonesia Perlu Waspada

 

Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Fenomena importasi yang dilakukan oleh sejumlah negara eksportir pangan perlu menjadi perhatian Indonesia, meski neraca pangan untuk satu semester ke depan diyakini akan aman.

Pegiat Komite Pendayagunaan Petani dan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mengemukakan terdapat anomali dalam pasar pangan global yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah anomali yang dimaksud antara lain impor beras yang dilakukan Vietnam yang merupakan salah satu eksportir utama komoditas tersebut dan proyeksi impor kedelai yang dilakukan Brasil, produsen nomor wahid untuk tanaman pangan itu.

“Hal ini perlu menjadi pertanyaan. Di pasar dunia, pasar beras ini sangat tipis, permintaan dari suatu negara atau atau kenaikan produksi 1 sampai 2 juta ton bisa langsung menggerakkan harga internasional,” kata Khudori saat dihubungi, Rabu (13/1/2021).

Meski tidak bisa memastikan penyebab importasi yang dilakukan Vietnam, Khudori mengatakan fenomena ini perlu menjadi catatan mengingat produksi nasional pun dibayangi curah hujan tinggi akibat La Nina. Potensi banjir dan longsor disebut Khudori bisa mengganggu produksi beras nasional tahun ini.

“Apa yang dilakukan Vietnam ini perlu diselidiki karena belum terbaca apa motifnya. Mungkin ada pertimbangan kompetisi dengan produsen lain atau bisa saja untuk mengamankan pasokan selama pandemi,” ujarnya.

Mengutip laporan Vietnam Plus, salah satu eksportir beras terbesar itu telah meneken kontrak pembelian 70.000 ton beras patah dari India seiring naiknya permintaan broken rice untuk pakan. Pembelian ini sekaligus menandai importasi beras pertama yang dilakukan Vietnam dalam satu dekade terakhir.

Terlepas dari faktor tersebut, Khudori menilai aksi Vietnam tidak bisa dikesampingkan. Terlebih stok akhir cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog pada 2020 cenderung lebih rendah dibandingkan dengan 2019.

Selain itu, dia mendapat laporan bahwa sekitar 316.000 ton beras CBP merupakan stok sisa impor yang dilakukan 2018.

“Kualitas beras ini perlu dicek karena sudah berusia lebih dari dua tahun, bisa saja fenomena disposal pada tahun lalu kembali terulang. Jika tidak bisa dikonsumsi, maka stok beras Bulog yang layak dikonsumsi rendah sekali,” kata Khudori.

Per 12 Januari 2021, total CBP yang dikelola Bulog berjumlah 977.000 ton. Perusahaan pelat merah tersebut sejatinya mengemban tugas untuk menjaga stok di kisaran 1 sampai 1,5 juta ton.

Stok awal tahun yang rendah pada komoditas gula pun menjadi sorotan Khudori. Dia mengatakan 804.685 ton setidaknya bisa memenuhi kebutuhan selama tiga bulan. Jika masa giling dimulai pada Juni 2021, importasi disebutnya harus dilakukan dan tidak bisa dihindari.

“Impor gula harus segera diputuskan izinnya demi menghindari kejadian seperti kedelai yang mendapat lonjakan permintaan dari China. Stok awal 804.000 ton ini terbilang rendah. Kalau merujuk ke tahun-tahun sebelumnya, stok awal idealnya di atas 1 juta ton,” katanya.

Share:

KALEIDOSKOP - Pandemi Covid-19 Bikin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus dan di Jurang Resesi

 KALEIDOSKOP - Pandemi Covid-19 Bikin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus dan di Jurang Resesi

TRIBUNNEWS.COM/REYNAS
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi RI yang dilihat dari produk domestik bruto (PDB) terkontraksi minus 3,49 persen di kuartal III 2020 (year on year/yoy). 

Hal ini membuat Indonesia resmi masuk jurang resesi menyusul negara lainnya. 

"Kalau kita bandingkan posisi triwulan ketiga tahun lalu masih mengalami kontraksi 3,49 persen. PDB Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan secara kuartalan sebesar 5,05 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam paparan virtual, Kamis (5/11/2020). 

Merespons data itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, perekonomian Indonesia minus 3,49 persen secara tahunan tersebut lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 5,32 persen meski masuk kategori resesi karena minus dua kuartal berturut-turut.

Baca juga: Ekonom: Covid-19 Bikin Negara Maju dan Berkembang Kompak Kena Resesi

"Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah atau turning point dari aktivitas-aktivitas ekonomi nasional menunjukkan ke arah zona positif," ujarnya saat konferensi pers virtual, Kamis (5/11/2020).

Menteri Keuangan - Sri Mulyani Indrawati
tribunnews/dea duta aulia
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dia menjelaskan, pandemi Covid-19 berdampak tidak hanya terhadap sisi kesehatan, tapi juga ekonomi. 

Menurut Sri Mulyani, dampak Covid-19 ke perekonomian hampir mencakup seluruh negara, kecuali China yang tidak masuk jurang resesi

"Dari sisi ekonomi, dampak dari Covid-19 ini luar biasa ke seluruh dunia, terutama pada kuartal II, kecuali China. Lainnya mengalami kontraksi yang cukup signifikan, bahkan di beberapa negara bisa mencapai puluhan hingga belasan persen mengalami kontraksi," ujarnya dalam webinar, Jumat (11/12/2020). 

Di sisi lain, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra Heri Gunawan menilai, perekonomian Indonesia saat ini mengalami dua pukulan telak. 


Yaitu, resesi dan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif yang masih negatif selama 2020. 

Indonesia masuk fase resesi karena dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi mengalami minus.

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan.Foto Dok/rni/dpr ri
Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan.Foto Dok/rni/dpr ri (dok. dpr ri)

Pada kuartal II pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen, sementara pada kuartal III pertumbuhan ekonomi minus 3,49 persen. 


"Sementara secara kumulatif pun selama 2020 dari kuartal I, kuartal II, dan kuartal III, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 2,03 persen," kata Heri dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, Kamis, (12/11/2020). 

Menurut dia, masuknya Indonesia dalam jurang resesi pada 2020 mengingatkan kembali peristiwa 1998. Krisis ekonomi pada saat itu diawali dengan resesi. 

Terjadinya krisis ekonomi 1998 saat itu tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah yang terlalu percaya diri atas fundamental ekonomi. 

Ia mengatakan sikap terlalu percaya diri tersebut mirip yang terjadi sekarang ini. 

"Kritik akan terjadinya kemunduran ekonomi tidak diindahkan. Pemerintah terus memproduksi alibi bahwa perekonomian Indonesia masih lebih baik dari negara lain. Faktor eksternal selalu dijadikan tameng menutupi kelemahan fundamental ekonomi domestik," katanya.



Share:

Recent Posts