Eksportir Pangan Dunia Mulai Lakukan Impor, Indonesia Perlu Waspada

 

Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Fenomena importasi yang dilakukan oleh sejumlah negara eksportir pangan perlu menjadi perhatian Indonesia, meski neraca pangan untuk satu semester ke depan diyakini akan aman.

Pegiat Komite Pendayagunaan Petani dan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mengemukakan terdapat anomali dalam pasar pangan global yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah anomali yang dimaksud antara lain impor beras yang dilakukan Vietnam yang merupakan salah satu eksportir utama komoditas tersebut dan proyeksi impor kedelai yang dilakukan Brasil, produsen nomor wahid untuk tanaman pangan itu.

“Hal ini perlu menjadi pertanyaan. Di pasar dunia, pasar beras ini sangat tipis, permintaan dari suatu negara atau atau kenaikan produksi 1 sampai 2 juta ton bisa langsung menggerakkan harga internasional,” kata Khudori saat dihubungi, Rabu (13/1/2021).

Meski tidak bisa memastikan penyebab importasi yang dilakukan Vietnam, Khudori mengatakan fenomena ini perlu menjadi catatan mengingat produksi nasional pun dibayangi curah hujan tinggi akibat La Nina. Potensi banjir dan longsor disebut Khudori bisa mengganggu produksi beras nasional tahun ini.

“Apa yang dilakukan Vietnam ini perlu diselidiki karena belum terbaca apa motifnya. Mungkin ada pertimbangan kompetisi dengan produsen lain atau bisa saja untuk mengamankan pasokan selama pandemi,” ujarnya.

Mengutip laporan Vietnam Plus, salah satu eksportir beras terbesar itu telah meneken kontrak pembelian 70.000 ton beras patah dari India seiring naiknya permintaan broken rice untuk pakan. Pembelian ini sekaligus menandai importasi beras pertama yang dilakukan Vietnam dalam satu dekade terakhir.

Terlepas dari faktor tersebut, Khudori menilai aksi Vietnam tidak bisa dikesampingkan. Terlebih stok akhir cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog pada 2020 cenderung lebih rendah dibandingkan dengan 2019.

Selain itu, dia mendapat laporan bahwa sekitar 316.000 ton beras CBP merupakan stok sisa impor yang dilakukan 2018.

“Kualitas beras ini perlu dicek karena sudah berusia lebih dari dua tahun, bisa saja fenomena disposal pada tahun lalu kembali terulang. Jika tidak bisa dikonsumsi, maka stok beras Bulog yang layak dikonsumsi rendah sekali,” kata Khudori.

Per 12 Januari 2021, total CBP yang dikelola Bulog berjumlah 977.000 ton. Perusahaan pelat merah tersebut sejatinya mengemban tugas untuk menjaga stok di kisaran 1 sampai 1,5 juta ton.

Stok awal tahun yang rendah pada komoditas gula pun menjadi sorotan Khudori. Dia mengatakan 804.685 ton setidaknya bisa memenuhi kebutuhan selama tiga bulan. Jika masa giling dimulai pada Juni 2021, importasi disebutnya harus dilakukan dan tidak bisa dihindari.

“Impor gula harus segera diputuskan izinnya demi menghindari kejadian seperti kedelai yang mendapat lonjakan permintaan dari China. Stok awal 804.000 ton ini terbilang rendah. Kalau merujuk ke tahun-tahun sebelumnya, stok awal idealnya di atas 1 juta ton,” katanya.

Share:

Recent Posts